Puisi Tanpa Nama


Apa yang kau lihat wahai anak muda?
Tampak selalu muncul kekhawatiran didalam bahasa-bahasa jiwamu.
Apa masa lalumu telah membelenggu pintu jiwamu?
Sesampainya kalimat-kalimat malaikat sulit turun kepadamu.
Penuh keraguan kepada jiwa mereka.

Bait suci terdengung agung dikala tangismu dulu.
Dikala jantungmu melangkah terlebih dahulu dari pikiranmu.
Tangisan suci tanpa kata-kata.

Bahwa gengaman kecil tanganmu dulu telah menjadi kekuatan sepasang jiwa penuh kemuliaan.
Dan tanpa kata-kata, jiwamu dulu merubah hidup mereka.

Bahwa tatapan suci matamu dulu telah menjadi pelembut hati sepasang jiwa penuh kemuliaan.
Dan tanpa kata-kata, jiwamu dulu merubah hidup mereka.

Bahwa kehangatan senyum kecilmu dulu telah menjadi arti syukur kepada sepasang jiwa penuh kemuliaan.
Dan tanpa kata-kata, jiwamu merubah hidup mereka.

Waktu telah memberi bumbu kedalam jiwamu yang berkembang.
Kedalam sebuah perjalanan hidup yang penuh warna.
Dan dia membentukmu sementara.
Waktu yang memilihmu wahai anak muda.
Dia sudah tertulis sebelum nada-nada hati berdenyut di-Ruhmu.
Setia tanpa kata-kata menyelimuti namamu.

Dia melangkah bersamamu
Bersama tangisanmu
Gengamanmu
Tatapanmu
Senyumanmu
Menjadi dirimu yang sementara itu

Dan ketika perjalananmu bersama teman setiamu (waktu) merisaukan jiwamu yang pernah suci.
Dia mengalah, dia kembali memilih untuk diam mengamatimu.
Dia tidak pernah akan pergi darimu wahai anak muda.
Kesucian waktu tersimpan jauh di dalam jiwamu yang bergejolak & berkembang karena keputusanmu.

Sesekali waktu menyelinap keluar dari ruang kosong yang kau pendam, tanpa sepengetahuan dirimu.
Dia menyamar menjadi sebuah warna baru.
Waktu terkesan berkorban untukmu.
Keikhlasan untuk membuka senyum tulus diwajahmu, tatapan sejuk di matamu & genggaman lembut sentuhanmu.

Keputusanmu memandang waktu menjadi pilihan dari dalam jiwamu.
Dia ingin menemani teman setianya di sebuah titik kehidupan.
Dan waktu sedang menunggu teman setianya untuk menyihir belenggu di pintu ruang kosong terlepaskan.
Dan itu keputusanmu wahai anak muda.
Penantiannya akan terus terasa didalam jiwamu yang berkembang.
Penyamarannya akan terus menghampirimu.
Dan keputusanmu akan menyihirnya.

Usia mungkin menjadi pembatas.
Namun, waktu akan terus mengabadikan & mengagungkan namamu kedalam sebuah cerita yang telah kau pilih.

Kepada jiwa suci yang kau pendam di dirimu yang sementara.
Dia (waktu) akan selalu menjadi puisi tanpa nama dalam tiap langkahmu wahai anak muda.

(Haryo Bimo Suryaningprang)

Write Your Messages

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s