Sulitkah? atau Ini Nikmat Perjalanan?


Mendaki gunung memang kegiatan yang menyenangkan. Meskipun harus bercape-cape dahulu, tapi banyak kenikmatan yang didapat selama perjalanan. Indonesia merupakan negara yang didalamnya terdapat banyak gunung yang bisa didaki. Gunung di Indonesia relatif tidak terlalu tinggi. Rata-rata berada di ketinggian 3.000 Mdpl (Meter Diatas Permukaan Laut). Hal ini yang menyebabkan, gunung di Indonesia menjadi favorit bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara untuk didaki. Jarak yang dekat juga menjadi alasan kenapa gunung – gunung di Indonesia begitu sering didaki. Kita ambil 5 contoh gunung yang menjadi favorit untuk didaki, yaitu:

  1. Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 Mdpl terletak di Pulau Lombok, NTB.
  2. Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 Mdpl terletak di Lumajang, Jawa Timur.
  3. Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 Mdpl terletak di Cibodas, Jawa Barat.
  4. Gunung Ceremai dengan ketinggian 3.078 Mdpl terletak di Kuningan, Jawa Barat.
  5. Gunung Pulosari dengan ketinggian 1.346 Mdpl terletak di Pandeglang, Banten.

Namun, ada fenomena yang bisa kita lihat sepanjang pendakian gunung yang dilakukan. Tidak jarang kita akan melihat banyaknya sampah-sampah yang berserakan di sepanjang jalur pendakian, camping ground, maupun di puncak-puncak gunung yang biasa menjadi favorit para pendaki. Berbagai macam sampah bisa kita lihat di gunung – gunung yang biasa didaki. Mulai dari sampah organik maupun sampah non organik. Dan biasanya adalah sampah logistik dari para pendaki itu sendiri.

Berbagai macam sampah yang kita buang disaat melakukan pendakian gunung terebut memiliki masa terurai yang bervariasi. Saya mengambil informasi dari Kawasan Wahana Lingkungan Hidup (KWLH) Beruang Madu, Jl. Soekarno Hatta Km 23 di Balikpapan, mengenai kategori sampah dan masa terurai-nya. Bisa dilihat dari gambar “Reduce, Reuse & Recycle. Akan kemanakah sampah kita? “, dimana sampah dikategorikan menjadi:

Reduce, Reuse & Recycle

  1. Tas Plastik dengan masa urai 10 – 20 Tahun.
  2. Sachet dengan masa urai 100 – 200 Tahun.
  3. Baterai, sampah yang beracun dan butuh ratusan tahun untuk terurai.
  4. Botol/Gelas Plastik dengan masa urai 100 – 450 Tahun.
  5. Kaleng Alumunium dengan masa urai 200 – 500 Tahun.
  6. Kaleng Biasa dengan masa urai 50 – 100 Tahun.
  7. Puntung Rokok dengan masa urai 5 – 10 Tahun.
  8. Buah & Sayuran dengan masa urai 2- 5 Minggu.
  9. Gabus/Styrofoam, tidak bisa terurai.

Macam-macam sampah diatas, biasanya adalah hasil logistik yang kita bawa dalam suatu pendakian. Yang ternyata membutuhkan waktu lama dalam menguraikan sampah tersebut secara alami, bahkan melebihi estimasi rata-rata umur manusia sekarang.

Pendakian gunung biasanya memakan waktu 1 hari hingga 5 hari. Dan kita bisa mendapatkan banyak kesenangan serta kenikmatan di perjalanannya. Pun dengan kenikmatan yang dirasakan ketika berada di sebuah dataran tinggi dari sebuah gunung, yang kita namakan Puncak Gunung. Tak jarang gambar pemandangan yang indah hasil dari suatu foto, dan tidak jauh dari tempat kita foto tersebut terdapat banyak sampah yang berserakan. Gambar sampah tersebut tidak dimasukkan ketika kita foto-foto pemandangan atau berfoto untuk pribadi. Tentu saja dengan berbagai macam alasan mengapa sampah yang ada tidak menjadi bagian dalam foto yang kita ambil.

Saya merupakan orang awam dalam hal pendakian gunung. Dan saya sangat tertarik untuk mengamati apa yang bisa dilakukan pendaki-pendaki di setiap kegiatan pendakian sebuah gunung. Saya pun juga pernah berada di posisi pendaki yang membuang sampah di gunung. Dan itu biasanya terjadi ketika sampah yang dibawa pada saat turun gunung menjadi beban tambahan dan terkadang bebannya menjadi lebih berat dibandingkan pada saat mendaki. Itu pun menjadi hal yang sangat terpaksa dilakukan, meskipun penyesalan dalam membuang sampah tersebut datang belakangan. Klise kalo boleh dibilang.

Setiap orang (pendaki) bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan (gunung). Semoga saja saya bisa menjadi pendaki pemula yang bisa menikmati pendakian sebuah gunung, dan juga menjadi pendaki gunung yang bertanggung jawab. Hal ini mungkin sulit untuk dilakukan, tapi ini bisa dilakukan apabila menjadikan tanggung jawab tersebut sebagai bagian dari nikmat sebuah perjalanan.

Haryo Bimo Suryaningprang
5 Oktober 2012

2 thoughts on “Sulitkah? atau Ini Nikmat Perjalanan?

Write Your Messages

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s