Persamaan, Perbedaan, Mengadili, Sebab, Akibat atau Terserah Saja


Seringai

Jika berbicara tentang suatu kejadian, pemikiran atau mungkin suatu pembicaraan-pembicaraan yang mengelitik untuk dianalisa yang tujuannya adalah mencari jawaban yang memberi rasa puas. Sebuah analisa yang umum mengacu pada satu kalimat “Ada Sebab, Ada Akibat” untuk ditelusuri oleh sebagian orang secara mendalam, hingga individu-individu tersebut merasa puas dengan jawaban yang dia temukan.

Tapi, biasanya itu hanya akan berujung kepada satu analisa yang tidak akan berhenti dengan satu jawaban saja, karena individu-individu tersebut tidak pernah merasa puas dengan kondisi yang hinggap disekitarnya. Dan untuk sebagian individu lainnya? Sebagian individu lainnya menganalisa dengan kalimat “Terserah Saja”, baik itu dari sisi akibat ataupun dari sisi penyebab.

Mengamati siklus pertanyaan dan pernyataan oleh berbagai macam individu bisa dibilang sangatlah lumrah dalam dinamika keseharian sebuah masyarakat. Tentu saja itu lumrah, karena persepsi satu individu bisa saja tidak sama dengan persepsi individu lainnya. Yang dibutuhkan adalah bagaimana cara menyikapi sebuah situasi di tiap-tiap kesempatan terjadinya persamaan persepsi, perbedaan persepsi atau bahkan mengadili persepsi.

Contohnya adalah lirik lagu dibawah ini yang merupakan salah satu bentuk pernyataan oleh salah satu grup band musik keras di Indonesia, yaitu Seringai dengan judul lagunya: “Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)“.

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!
   
Selamat datang di era kemunduran,
pikiran tertutup jadi andalan.
Praduga tumbuh tenteram,
menghakimi sepihak, sebar ketakutan.

Membakukan persepsi, bukan jadi jawaban
atau gagasan bijak.
Selangkah maju ke depan,
empat langkah ke belakang,
kita takkan beranjak.    

Mereka, bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.

Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka
Individu, individu merdeka!

Selamat tinggal, era kemajuan,
lupakan harapan dan kehidupan.
Menjauh dari akar masalah,
mendekatkan kepada kebodohan yang dipertahankan.

Privasi. Seni.
Siapa engkau yang menghakimi?
Masih banyak masalah, dan lebih krusial,
tidak bicara asal.

Mereka bermain Tuhan.
Merasa benar, menjajah nalar.
Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya.
Berikutnya….

Sudahkah merdeka??
Sudahkah dirimu merdeka??

Melalui lirik ini, grup band Seringai mampu menarik perhatian penikmat musik keras di Indonesia.

Ada yang menyikapinya dengan keras, ada yang menyikapinya dengan “Terserah Saja” dan ada yang hanya sekedar menikmati kondisi yang terjadi. Ada persamaan, perbedaan dan mengadili persepsi. Mungkin saja seseorang sudah terbiasa dengan situasi kontroversial yang seperti itu, sehingga lirik yang terbaca menegaskan apa yang sudah lumrah dia alami.

Lalu, bagaimana jika lirik ini terbaca oleh seseorang yang tidak terbiasa? Bagaimana anda menyikapi lirik diatas, jika lirik tersebut ditujukan secara khusus untuk anda yang membaca ini? Persamaan? Perbedaan? Atau Mengadili Persepsi?

Apakah lirik tersebut menjadi penyebab dari reaksi anda ketika anda membacanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin akan muncul. Dan mungkin individu yang menganalisanya akan mendapatkan jawaban tertentu. Dan ada sebagian individu yang akan menjawab: “Terserah Saja”

Tapi apakah anda akan berhenti sampai disitu, ketika anda sudah menemukan jawaban yang membuat anda puas? Bagaimana anda akan menyikapinya?

Persamaan, Perbedaan, Mengadili, Sebab, Akibat atau Terserah Saja. Setiap individu memiliki kemampuan masing-masing dalam menyikapinya. Yang manakah anda?

(HBS)

Write Your Messages

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s