Satu Kisah Tidur Untuk Arka


Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, sudah waktunya Arka untuk tidur.

Aku sedang melihat Arka dari luar pintu kamarnya, dan dia sedang berselimutkan diri agar hangat dalam tidurnya.

Aku segera masuk kedalam kamar untuk melihat keadaannya, kurapikan sedikit selimut yang sedang menutupi sebagian badannya tersebut. Kuperhatikan dia dengan seksama, kuperhatikan seorang anak laki-laki yang tampak lelah dengan aktivitas dia pada hari ini. Secara instant, aku membelai rambutnya sebagai penghantar tidur. Begitu cepat waktu berlalu, Arka sudah berumur 4 tahun sekarang.

Menemani Arka disaat sebelum tidur sudah menjadi kebiasaanku, ditambah dengan kebiasaanku bercerita tentang suatu kisah penghantar tidur. Bukan dongeng, bukan imajinasi yang biasa kuceritakan, tapi kisah-kisah teladan yang menceritakan tentang kejadian hidup yang dapat memupuk keyakinan, kesederhanaan, kerendahan hati serta kekuatan iman. Kisah-kisah ini khusus aku ceritakan di saat waktu tidurnya saja, karena belum saatnya aku mengajak diskusi Arka tentang kehidupan di setiap waktu.

“Bersabarlah anakku sayang, karena kelak kita akan menjadi pasangan yang mampu berdiskusi dalam hal apapun yang kamu temukan dalam hidupmu. Datanglah ke papa untuk membicarakan sesuatu tersebut, bertanyalah kepadaku. Atas seijinNya, aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuatmu gundah. Seandainya aku tak dapat menjawab pertanyaanmu, papa percaya bahwa jawaban dari pertanyaan itu menjadi takdir ilahi untuk kamu temukan sendiri. Datanglah kepadaNya, biarkan Allah yang menuntunmu dalam mencari jawaban. Papa akan mendoakanmu.”

Mata Arka pun sudah mulai sedikit terpejam…..

“Duhai anakku Arka, kamu adalah seorang lelaki. Anak lelaki pertama dalam keluarga Papa. Kelak kamu akan menjadi pengganti papa, kelak kamu akan menjadi penjaga bunda, kelak kamu akan menjadi penjaga adik-adikmu, kelak kamu akan menjadi pemimpin dalam keluargamu nanti dan kelak kamu akan menjadi seorang lelaki yang harus bisa bertanggung jawab atas segala perbuatanmu.”

“Kali ini Papa ingin bercerita tentang sebuah kisah teladan yang bisa menjadi panutan dalam hatimu. Dengarkan papa bercerita diantara matamu yang mulai terpejam. Dan papa akan tetap bercerita di kala lelapmu dalam tertidur dan biarkan hatimu yang mendengar”

“Papa tidak akan menunggu hingga kamu besar untuk menceritakan kisah ini, selama papa masih bisa, maka papa akan menuntun awal kehidupanmu dengan menceritakan kisah-kisah teladan yang pernah terjadi di kehidupan bersejarah pada masa lalu”

“Kisah ini tentang seorang laki-laki yang sederhana, dimana menggembala ternak menjadi pilihan hidupnya untuk menajamkan fikiran, dimana kemandirian menjadi pilihan hidupnya dalam menjalani hidup, dimana keberanian menjadi pilihan hidupnya dalam menghadapi kehidupan, dimana perut yang lapar menjadi pilihan hidupnya dalam men-sejahterakan rakyat, dimana rumah yang sederhana menjadi pilihan hidupnya sebagai istana berteduh, dimana pakaian yang terlihat usang menjadi pilihan hidupnya untuk menampilkan diri, dimana ketakutannya kepada Allah menjadi pilihan hidupnya dalam memutuskan sesuatu.”

“Dia adalah Umar Bin Khattab, khalifah kedua dalam kepemerintahan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dia adalah seorang sahabat dari nama (Bilal) yang papa sematkan didepan namamu Arka. Dia adalah salah seorang suri teladan untuk kehidupan kita nak”

MENGGALI PARIT SEORANG DIRI

Umar bin Khattab tidak saja di kenal sebagai khalifah yang berwibawa, tapi juga sederhana dan merakyat. Untuk mengetahui keadaan rakyatnya, Umar tak segan-segan menyamar jadi rakyat biasa.

Ia sering berjalan-jalan ke pelosok desa seorang diri. Pada saat seperti itu tak seorang pun mengenalinya bahwa ia sesungguhnya kepala pemerintahan. Kalau ia menjumpai rakyatnya sedang kesusahan, ia pun segera memberi bantuan.

Umar sadar, apa yang ada di tangannya saat itu bukanlah miliknya melainkan milik rakyat. Untuk itu Umar melarang keras anggota keluarganya berfoya-foya. Ia selalu berhemat dalam menggunakan keperluannya sehari-hari. Karena hematnya, untuk menggunakan lampu saja keluarga Amirul Mukminin ini amat berhati-hati. Lampu minyak itu baru dinyalakan bila ada pembicaraan penting. Jika tidak, lebih baik tidak pakai lampu.

“Anak-anakku, lebih baik kita bicara dalam gelap. Sebab, minyak yang digunakan untuk menyalakan lampu ini milik rakyat!” sahut khalifah ketika anaknya ingin bicara di tengah malam.

Dalam hidupnya, Umar senantiasa memegang teguh amanat yang diembankan rakyat di pundaknya. Pribadi Umar yang begitu mulia terdengar dimana-mana. Seluruh rakyat sangat menghormatinya. Rupanya, cerita tentang keagungan Khalifah Umar ini terdengar pula oleh seorang raja negara tetangga. Raja tertarik dan ingin sekali bertemu dengan Umar.

Maka pada suatu hari dipersiapkanlah tentara kerajaan untuk mengawalnya berkunjung ke pemerintahan Umar. Ketika raja itu sampai di gerbang kota Madinah, dilihatnya seorang lelaki sedang sibuk menggali parit dan membersihkan got di pinggir jalan. Lalu, di panggilnya laki-laki itu.

“Wahai saudaraku!” seru raja sambil duduk di atas pelana kuda kebesarannya.

“Bisakah kau menunjukkan di mana letak istana dan singgasana Umar?” tanyanya kemudian. Lelaki itu segera menghentikan pekerjaannya. Lalu, ia memberi hormat.

“Wahai Tuan, Umar manakah yang Tuan maksudkan?” si penggali parit balik bertanya.” Umar bin Khattab kepala pemerintahan kerajaan Islam yang terkenal bijaksana dan gagah berani,” kata raja. Lelaki penggali parit itu tersenyum. “Tuan salah terka. Umar bin Khattab kepala pemerintahan Islam sebenarnya tidak punya istana dan singgasana seperti yang tuan duga. Ia orang biasa seperti saya,” terang si penggali parit,”.

“Ah benarkah? Mana mungkin kepala pemerintahan Islam yang terkenal agung seantero negeri itu tak punya istana?” raja itu mengerutkan dahinya.

“Tuan tidak percaya? Baiklah, ikuti saya,” sahut penggali parit itu.

Lalu diajaknya rombongan raja itu menuju “istana” Umar. Setelah berjalan menelusuri lorong-lorong kampung, pasar, dan kota, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Diajaknya tamu kerajaan itu masuk dan dipersilakannya duduk. Penggali parit itu pergi ke belakang dan ganti pakaian. Setelah itu ditemuinya tamu kerajaan itu. “Sekarang antarkanlah kami ke kerajaan Umar!” kata raja itu tak sabar.

Penggali parit tersenyum. “Tuan raja, tadi sudah saya katakan bahwa Umar bin Khattab tidak mempunyai kerajaan. Bila tuan masih juga bertanya di mana letak kerajaan Umar itu, maka saat ini juga tuan-tuan sedang berada di dalam istana Umar!”

Hah?!” Raja dan para pengawalnya terbelalak. Tentu saja mereka terkejut. Sebab, rumah yang di masukinya itu tidak menggambarkan sedikitpun sebagai pusat kerajaan. Meski rumah itu tampak bersih dan tersusun rapi, namun sangat sederhana.

Rupanya raja tak mau percaya begitu saja. Ia pun mengeluarkan pedangnya. Lalu berdiri sambil mengacungkan pedangnya.

“Jangan coba-coba menipuku! Pedang ini bisa memotong lehermu dalam sekejap!” ancamnya melotot.

Penggali parit itu tetap tersenyum. Lalu dengan tenangnya, ia pun berdiri.” Di sini tidak ada rakyat yang berani berbohong. Bila ada, maka belum bicara pun pedang telah menebas lehernya. Letakkanlah pedang Tuan. Tak pantas kita bertengkar di istana Umar,” kata penggali parit. Dengan tenang ia memegang pedang raja dan memasukkannya kembali pada sarungnya.

Raja terkesima melihat keberanian dan ketenangan si penggali parit. Antara percaya dan tidak, dipandanginya wajah penggali parit itu. Lantas, ia menebarkan kembali pandangannya menyaksikan “istana” Umar itu. Muncullah pelayan-pelayan dan pengawal-pengawal untuk menjamu mereka dengan upacara kebesaran. Namun, raja itu belum juga percaya.

“Benarkah ini istana Umar?” tanyanya pada pelayan-pelayan.

“Betul, Tuanku, inilah istana Umar bin Khattab,” jawab salah seorang pelayan.

“Baiklah,” katanya. Raja memang harus mempercayai ucapan pelayan itu.

“Tapi, dimanakah Umar? Tunjukkan padaku, aku ingin sekali bertemu dengannya dan bersalaman dengannya!” ujar sang raja.

Dengan sopan pelayan itu pun menunjuk ke arah lelaki penggali parit yang duduk di hadapan raja.” Yang duduk di hadapan Tuan adalah Khalifah Umar bin Khattab” sahut pelayan itu.

“Hah?!” Raja kini benar-benar tercengang. Begitu pula para pengawalnya.

“Jad…jadi, anda Khalifah Umar itu…?” tanya raja dengan tergagap.

Si penggali parit mengangguk sambil tersenyum ramah.

“Sejak kita pertemu pertama kali di pintu gerbang kota Madinah, sebenarnya Tuan sudah berhadapan dengan Umar bin Khattab!” ujarnya dengan tenang.

Kemudian raja itu pun langsung menubruk Umar dan memeluknya erat sekali. Ia sangat terharu bahkan menangis melihat kesederhanaan Umar. Ia tak menyangka, Khalifah yang namanya disegani di seluruh negeri itu, ternyata rela menggali parit seorang diri di pinggir kota.

Sejak itu, raja selalu mengirim rakyatnya ke kota Madinah untuk mempelajari agama Islam.

MAKANAN ENAK UNTUK KHALIFAH

Kisah Umar bin Khattab bisa menjadi cermin bagi kita. Ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan, di masa pemerintahan Umar bin Khattab disuguhi makanan oleh rakyatnya. Kebiasaan yang lazim kala itu. Dengan senang hati gubernur menerimanya seraya bertanya “Apa nama makanan ini?”. “Namanya Habish, terbuat dari minyak samin dan kurma”, jawab salah seorang dari mereka.

Sang Gubernur segera mencicipi makanan itu. Sejenak kemudian bibirnya menyunggingkan senyum. “Subhanallah” Betapa manis dan enak makanan ini. Tentu kalau makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab di Madinah dia akan senang, ujar Utbah.

Kemudian ia memerintahkan rakyatnya untuk membuat makanan dengan kadar yang diupayakan lebih enak. Setelah makanan tersedia, sang gubenur memerintahkan anak buahnya untuk berangkat ke madinah dan membawa habish untuk Khaliofah Umar bin Khattab. Sang khalifah segera membuka dan mencicipinya. “Makanan Apan ini?” tanya Umar.

“Makanan ini namanya Habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab salah seorang utusan.

“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bisa menikmati makanan ini?’, tanya Umar lagi.

“Tidak. tidak semua bisa menikmatinya”, jawab utusan itu gugup

Wajah Khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali habish ke negerinya. Kepada Gubernurnya ia menulis surat: “……… makanan semanis dan selezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu”

——–

Selesai aku bercerita tentang kisah Umar Bin Khattab, aku melihat Arka sudah tertidur dengan lelapnya. Meski begitu, aku sejenak membisikkan sebuah kalimat penghantar mimpi melalui telinga kanan Arka.

“Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezeki, tapi tidak menemukan rezeki yang lebih baik daripada sabar.” (Umar bin Khattab)

Semoga Allah senantiasa menjagamu wahai anakku.

(Papa)

Write Your Messages

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s